Rabu, 29 Mei 2019

Tertawa dalam Lara

Waktu menunjukan pukul 23.29 Wib kota yang selalu sibuk sudah mulai lelah dan beristirahat malam yang sunyi di sepertiga ramadhan dalam ruangan sempit 3 x 3 diiringi suara kipas angin yang berisik sesekali suara nyamuk mengganggu.

Dalam kamar sempit tersebut terlihat barang-barang yamg tidak disusun dan berantakan seoalah itu kamar yang ditinggalkan.

Seorang pemuda kurus dengan kacamata yang selalu melekat terlihat murung sedang memainkan ponsel kesayangannya, entah apa yang dia lihat wajah yang semula terlihat ceria berubah masam, matanya pun berair, terlihat seorang seorang masuk ke kamar

"Ram ngapain lu malam-malam begini belum tidur" Kata pemuda berbadan gempal 

"Oh. . ini lagi baca artikel ndut" Sahut Rama

"Baca artikel macam apa yang bisa bikin matamu berair begitu kamu lagi lihat foto Ika bersama suaminya lagi ya.?"

"Gila lu Pandu, mana ada gue lihat foto Ika beneran ini sedang baca artikel tapi tadi mata terasa gatal gue kucek saja eh malah jadi berair"

"Ram. . ram. . bilang aja matamu kelilipan kenangan masa lalu" ledek Pandu sambil tertawa
"Ha. . . .ha. . .ha. . .bisa aja lu ndut, tapi beneran ini gue lagi baca artikel"

"hahahaaa.  . . artikel tentang bagaimana cara lupa  gimana ram, sudah ikhlasin aja wanita bukan cuma satu aja, toch lu juga posisinya juga sama sudah berkeluarga, sekarang fokus dulu dengan urusan lu,"

"Apaan si ndut sok dewasa lu, sok tau ini beneran lagi baca artikel tentang bagaimana membunuh secara berlahan temen yang sok tau kaya elu. . . .hahaha
 .. . ." Rama tertawa meledek Pandu

"Anjay . . . ini si lu uda kena pasal tentang rencana pembunuhan."

"Mentang mentang sarjana hukum apa-apa dikenain pasal, urusin tu orang yang membutuhkan pendampingan di sidang jangan sibuk nyari pendamping hidup mulu, "

"Wah elu udah mulai berani gini-gini bokin gue banyak"

"Banyak cuma ada maunya aja ama elu minta dianterin kuliah, kan lumayan ojek gratis,"

"Sialan lu emang gue apaan, "

"Udeh lu kesini mau minta indomie kan itu ambil di kerdus, rese lu kalau laper, gue juga mau tidur."

"Tau aja lu, emang dah best prend ente"

"Udah. . . udah. . banyak omong lu, ini gue ambilin mie keluar sana," Rama memberikan mie dan mendorong Pandu keluar kamar serta mengunci kamar kost tersebut. tampak dari luar pandu berteriak
"gue kalau laper makan beda kaya elu kebanyakan makan masa lalu kuruskan lu" ledek pandu sambil berjalan ke Dapur bersama.

Suasana kamar Rama kembali menjadi hening, rama memikirkan kata-kata yang dikatakan pandu, namun seketika nafas terasa sesak karena teringat saat melihat Ika mengenakan Gaun Hijau serasi dengan Mempelai laki-lakinya terlihat kedua mempelai sangat serasi dan bahagia didalam foto yang tak sengaja dilihatnya sebelum Pandu masuk kekamarnya.
dalam hati Rama berkata "Sudahlah dia juga terlihat sangat bahagia dan sangat menikmati kehidupannya apalagi ika sudah punya putri kecilnya, mungkin kini cinta ini hanya aku saja yang masih belum berubah, "
lalu rama memutar lagu selamat tinggal dari virgoun feat Audy untuk menguatkan hatinya lalu tidur.

"Rama apa kabar kamu.?, lama kita tak berjumpa" sapa seorang gadis yang tinggnya sekitar 153 cm tampak manis dan menggemaskan
"Eh. . . aku Baik-baik saja Ka, kamu apa kabar kapan kamu datang kesini.?" Sahut rama yang agak terkejut dan tampak berseri-seri wajahnya melihat sosok gadis yang menyapanya.
"Aku udah lama tinggal disini kamunya aja yang lupa sama aku jadi ngga tau kan kalau aku tinggal deket sama kamu,"
"Lah. .masa aku baru lihat hari ini apa karena kamu makin cantik jadi pangling gini ama kamu"
"Kamu belum berubah ya ram sukanya ngegombal, eh ram aku mau bilang sesuatu ama kamu"
"Tinggal ngomong aja ka ngapa harus ijin si ."
"Bangun ram udah siang lu ngga gawe"
Rama kaget dan terbangun terdengar suara pintu yang di gedor-gedor dan terdengar suara Pandu "Bangun ram udah siang lu ngga gawe"
Rama masih terheran-heran dengan kenyataan bahwa hal nyata yang barusan terjadi hanyalah mimpi, rama yang agak kesal dengan pandu menjawab dengan keras "Iye gue dah bangun"

Bersambung

Selasa, 28 Mei 2019

Senja dan Do'a

Hay kau wanita yang selalu kusebut dalam do'aku
Taukah kamu kini ku berjalan namun melayang
Melangkah namun terdiam
Kujalan sisa waktu ini dengan sandiwara ku yakinkan semua kini aku baik-baik saja di atas sakit karena luka yang luar biasa.
Kau tau aku hancur untuk yang kesekian kalinya akupun tak  berdaya menjalani ini semua.
Nyatanya kau memang senjaku hadirmu selalu membawa ku dalam kekaguman hingga ku tak bisa berpaling namun ku tak bisa berbuat apa-apa saat kau pergi aku hanya bisa memandangmu penuh harap agar kita tak terpisah lagi namun engkau tetap berlalu tanpa hiraukan hancurnya aku. . .


Jika suatu saat engkau kembali ku harap kau tak menjadi senja lagi ku harap saat kau datang kembali kita bisa bersatu tanpa ada dia tanpa ada mereka dan benar-benar menyatu dalam cinta menyatu dalam rindu.

Kuingin diakhirku bersamamu hingga di Jannah kelak.
ada rasa yang tak pernah bisa diungkapkan ada rasa yang tidak pernah tersampaikan.

Tuhan Engkau yang menciptakan hati ini, engkau pula yang memberi rasa ini kenapa Engkau beri jalan yang terlalu berat untukku jika memang dia bukan jodohku untuk apa perasaan ini tidak bisa berubah dan untuk apa rasa ini ada jika Engkau tak beri kesempatan kami bersama untuk merasakan cinta dan menyatakan cinta.

Apakah dosa hamba yang tak bisa sedikitpun merubah rasa yang ada hingga jiwa ini terus tersiksa karena cinta yang tak bisa bersama.

Jikalah dunia diciptakan dengan cinta apakah aku terlalu busuk untuk bisa merasakan sedikit cinta itu, hingga terasa pilu saat melihat dia yang kucinta bahagia dengannya.

yang ku lakukan hanya tertawa untuk menutup semua lara yang ada 😃

Minggu, 26 Mei 2019

Bukan Badai

Sepi datang tak berwujud berlahan memeluk jiwa merasuk hati ditengah kesunyian, Hati berdebar ditengah sunyi meramaikan ibukota yang telah lelah oleh aktivitasnya.

Aku berjalan menyusuri kegelisahan hati mempertemukanku dengan badai, di tengah badai yang dahsyat yang mengiris hati mengoyak dan menyayat, Luka ini semakin parah setelah badai matahari bersinar terang diiatas langit aku berjalan dibawahnya terbakar dan terpapar cahayanya ku coba untuk menatapnya semakin ku tatap semakin terasa sakit dibuatnya.

Gelapnya malam menyadarkanku bahwa aku memang sendiri menatap rembulan yang tak utuh ditelah kesunyian yang membuatku semakin rapuh.
Aku ingin bercerita tentang kebahagiaan dan harapan belum ku berucap kenyataan telah membawa ke dalam luka yang mendalam.

Karang ini berlahan hancur menjadi debu menjadi pasir tak kuat menahan kencangnya ombak yang setiap saat datang, kau dan dia adalah gelombang dan air garam sementara aku hanya karang yang penuh luka yang setiap saat harus siap menerima kau datang dengan luka yang semakin parah, berlari aku tak bisa yang ku bisa hanya menunggu mereka datang untuk terus dan terus mengikis dan menghancurkannya hingga suatu saat aku terkenang sebagai pasir ☺

Waktu

Mungkin ini hanya perasangka saja seolah waktu berhenti disekelilingku yang terjadi hanya pengulangan, suatu harapan muncul membuat kesenangan dan kenyamanan namun saat terlalu berharap tinggi tiba-tiba badai datang menghancurkan setiap harapan, bagaimana rasanya terjebak terlalu lama dalam jurang berdiri sendiri melawan sepi menatap langit yang gelap dan mendung tak ada cahaya tak ada bahagia, bagaimana rasanya terlalu terluka hingga tidak bisa merasa sakit meski langkah kaki ini berat karena kaki penuh luka berjalan diatas terjalnya dasar jurang berjalan penuh luka, saat matahari terbit seolah akan ada harapan akan ada seseorang yang datang menolong namun itu hanya ilusi saja walau matahari terbit namun cahaya dan kehangatannya tidak menjangkau ke dasar ini.

Jurang ini terlalu dalam sinar matahari tak lagi bisa menjangkaunya, disini ditanah lembab penuh lumut disini udara dingin tak ada selimut disini gelap dan ketakutan selalu datang bergantian.
Sepi berubah menjadi teman yang selalu mengasikan hadirnya setiap saat datang tanpa sandiwara datangnya tanpa membawa luka seolah sepi yang paling mengerti disaat dia harus hadir disaat dia harus berhenti dan disaat dia harus mundur.

Sepi bukan senja yang hadirnya hanya akan menambah luka dengan keindahannya sepi pun bukan matahari yang selalu menghangatkan disiang hari namun saat datang dinginnya malam dia pergi bersama senja.


Kamis, 23 Mei 2019

Kenapa Kamu Berbeda 1

Gambar Hanya Pemanis Saja


Berawal dari kisah yang belum usai di saat senja. 
Langit tampak cerah bangunan tampak megah namun belum terjamah udara dan suhu sama seperti biasanya panas menyengat matahari mulai lelah bersinar berlahan meredupkan sinarnya terlihat senja yang jingga datang dengan kelembutanya di sore yang sepi disaat hati mulai lelah menunggu rembulan menanti bintang.

Terlintas bayangan seseorang datang menghampiriku tersenyum dan menyapa penuh kelembutan penuh kehangatan dia tertawa riang duduk disampingku dan bercerita tentang hari esok dimana dunia akan dipenuhi dengan kesenangan dipenuhi tentang kegembiraan, aku yang tertarik malu-malu mulai melirik menatap wajah ayunya menatap wajah indahnya, terbuai dengan cerita-cerita indahnya akupun mulai membuat pertanyaan karena penasaran dibuatnya, "Lantas apa yang membuatmu yakin esok tak ada Luka tak ada lara?"  dia menjawab dengan penuh keyakinan "Karena esok matahari kan bersinar lagi, karena esok kita kan berjumpa lagi", terkejut dengan jawaban singkat yang dibuatnya menghanyutkanku dalam tatapan tajam dan senyum yang menawan. aku yang terbuai mulai terbawa suasana, saat berhayal tentang saat esok mengarungi hari penuh dengan kegembiraan seperti yang diceritakan membuat ilusi-ilusi dalam pikiran aku tak sabar menanti hari yang dijanjikan.

Waktu berlalu begitu cepat, aku yang terhanyut oleh keindahanya, bercanda dan tertawa, berkhayal tentang hari esok hari dimana tak ada lagi duka lara dan nestapa, hari dimana saat aku dan kau menjadi kita menjalani sisa hidup bersama selamanya, aku yang terlalu berharap banyak padamu tak kusadar kau berlahan menjauh, meredup dan menghilang begitu saja, kisah yang awalnya bahagia dengan cepatnya berakhir hingga air mata mulai mengalir tak kusangka engkau yg datang memberikan keindahan justru saat ku sudah berharap terlalu jauh kau pergi meninggalkanku dalam kegelapan rembulan yang ku tunggu tak datang bintang yang kunanti pun hilang, tinggalah aku yang terluka karena terbuai oleh SENJA.