Minggu, 26 Mei 2019

Bukan Badai

Sepi datang tak berwujud berlahan memeluk jiwa merasuk hati ditengah kesunyian, Hati berdebar ditengah sunyi meramaikan ibukota yang telah lelah oleh aktivitasnya.

Aku berjalan menyusuri kegelisahan hati mempertemukanku dengan badai, di tengah badai yang dahsyat yang mengiris hati mengoyak dan menyayat, Luka ini semakin parah setelah badai matahari bersinar terang diiatas langit aku berjalan dibawahnya terbakar dan terpapar cahayanya ku coba untuk menatapnya semakin ku tatap semakin terasa sakit dibuatnya.

Gelapnya malam menyadarkanku bahwa aku memang sendiri menatap rembulan yang tak utuh ditelah kesunyian yang membuatku semakin rapuh.
Aku ingin bercerita tentang kebahagiaan dan harapan belum ku berucap kenyataan telah membawa ke dalam luka yang mendalam.

Karang ini berlahan hancur menjadi debu menjadi pasir tak kuat menahan kencangnya ombak yang setiap saat datang, kau dan dia adalah gelombang dan air garam sementara aku hanya karang yang penuh luka yang setiap saat harus siap menerima kau datang dengan luka yang semakin parah, berlari aku tak bisa yang ku bisa hanya menunggu mereka datang untuk terus dan terus mengikis dan menghancurkannya hingga suatu saat aku terkenang sebagai pasir ☺

Tidak ada komentar:

Posting Komentar